Aku memasrahkan kakiku melangkah menapaki jalan kecil di sepanjang jalan belakang menuju rumahku. Sisa hujan tadi siang, membuat sandalku kotor oleh tanah bercampur air. Angin yang menyentuh permukaan kulit, membuat pori-poriku meremang. Sinar matahari sesekali menembus celah daun dan ranting, sama sekali tidak mampu menghangatkanku. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, menatap genangan-genangan air dihadapanku.
Sampai sebuah sepeda motor yang kukenali suara knalpotnya menghentikan langkahku. Perlahan aku mendongakkan kepalaku, dan kutemukan kau bersama seorang lelaki yang sudah kukenal betul, dia adikmu. Kau terhenti, lalu menatapku sekilas. Seuntas senyum mengembang di bibirku. Kau, sebuah nama yang selalu ada dalam doaku. Kau, seseorang yang dibahumulah aku menyandarkan kepalaku saat merasa lelah. Kau, yang aku nikmati ketidaksempurnaanmu. Kau, harapanku.
"Aku mau bicara.", mesin sepeda motormu masih menyala saat aku mengatakannya.
Kau menatapku lagi, kali ini lebih lama dari sebelumnya, dan sialnya aku tidak mengerti apa arti tatapanmu. Pandanganmu kini beralih pada jalan yang lurus, lalu kau jalankan lagi sepeda motormu, melewatiku tanpa menoleh.
Kau telah menarik dinding luka yang menganga dengan sekuat tenaga. Linu dan perih datang bersamaan. Bulir-bulir air mata yang tidak lagi dapat kutahan membuat sekelilingku menjadi ruang hampa udara. Kakiku yang lemas kini tak mampu menopang tubuhku. Aku terjatuh menghantam tanah basah dengan keras. Buram. Sebelum akhirnya gelap. Yang tersisanya hanya bayang senyum bahagiamu dua bulan yang lalu di hari pernikahan kita dan surat permintaan cerai yang belum kutandatangani.
Sayang, andai aku tahu apa kesalahanku.
Maafkan aku.